Categories
Uncategorized

DUTA BESAR CINA DIPANGGIL PEMERINTAH

akhir-akhir ini memang menimbulkan kecemasan, terutama bagi mereka yang dulu mensyukuri runtuhnya Uni Soviet. Laporan US News & World Report pertengahan Mei lalu menyebutkan saat ini kekuasaan di Rusia cenderung berpusat di tangan Putin. Untuk merespons kondisi ekonomi yang merosot, Putin memompakan sentimen nasionalisme, yang mendorong Rusia berupaya meningkatkan pengaruh globalnya di antaranya melalui pencaplokan wilayah dan retorika konfrontatif.

Di dalam negeri, dia menciptakan musuh yang bersama-sama bisa dijadikan sasaran kegusaran: Barat. Gorbachev mengaku mendengar pernyataan yang menekankan perlunya otoritarianisme dan ketegasan, serta yang mencoba meyakinkan bahwa demokrasi hanya bisa dicapai di masa depan yang jauh. Dia tak sependapat. ”Saya kira, jika demokrasi berakar kuat, kalau ia didasarkan atas pemilihan umum, jika rakyat punya kesempatan untuk memilih pemimpin secara reguler, saya kira itulah yang kita perlukan.

Itulah dasar bagi stabilitas dalam kebijakan luar negeri dan dalam negeri.” Secara terbuka, Gorbachev tak pernah menyalahkan Putin. Tapi dia lebih kritis terhadap sang Presiden ketika bukunya mulai diedarkan di Rusia tahun lalu. ”Dia mulai menderita penyakit seperti yang merasuki saya: keyakinan diri,” ujar Gorbachev ketika itu. ”Dia menganggap dirinya wakil Tuhan, meski saya tak tahu untuk apa.” Bisa dipahami bila dalam kenyataannya Gorbachev tak terlalu konfrontatif mengkritik.

Seperti orang Rusia kebanyakan, dia tak kebal hukum. Dengan apa yang sejauh ini telah dia lakukan saja dia merasa semakin tak aman mengingat Kremlin terus mengekang kebebasan sipil. Gorbachev mengaku takut dinyatakan sebagai ”agen asing”, label dari masa Stalin yang berarti ”mata-mata”. Kerisauan itu toh tidak menghalau keyakinannya pada kejutan-kejutan dalam hidup. Ketika memberi sambutan pada peluncuran bukunya, dia berkata, ”Semakin saya merenungkan hidup saya, semakin terlihat bahwa peristiwa-peristiwa terbesar dan terpenting terjadi tanpa didugaduga.

” Jepang mengatakan telah memanggil Duta Besar Cina di Tokyo setelah ada penyusupan kapal perang Cina. Kapal itu, sebuah fregat, diketahui memasuki perairan di Laut Cina Timur, 24 mil dari kepulauan tak berpenghuni Jepang menyebutnya Senkaku, sedangkan Cina menamainya Diaoyu yang diperselisihkan kedua negara.

Menurut para pejabat Jepang, kapal itu meninggalkan lokasi setelah dua jam kemudian. ”Tindakan Cina meningkatkan ketegangan di kawasan itu, dan kami sangat prihatin,” kata Yoshihide Suga, Kepala Menteri Kabinet, dalam sebuah konferensi pers, Kamis pekan lalu. Menurut Suga, Perdana Menteri Shinzo Abe telah memerintahkan angkatan laut dan penjaga pantai bersiaga.

Kementerian Pertahanan Cina tak secara gamblang membenarkan kapal yang dimaksud telah memasuki perairan yang diperselisihkan. Tapi dalam keterangan resminya, yang dikutip The New York Times, ditegaskan bahwa Cina berhak mengirim kapal ke sana. Menurut pejabat Jepang, Cina secara teratur mengirim kapal nonmiliter ke kawasan itu untuk kemudian berupaya dengan segala cara menghindari kejaran penjaga pantai Jepang. Pengiriman kapal perang langsung ke wilayah yang dikontrol Jepang merupakan yang pertama kali.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *